Breakingnewsbandung.com – Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat terpilih yang lebih dikenal dengan branding dirinya sebagai KDM (Kang Dedi Mulyadi), membawa inovasi baru dalam dunia politik melalui pendekatan yang disebut sebagai ‘Blusukan Viral’. Model ini menggabungkan strategi blusukan khas Jokowi pada 2012 dengan pemanfaatan media sosial modern seperti YouTube dan TikTok, yang sangat relevan dengan tren digital saat ini.
Pada era Jokowi di tahun 2012, blusukan menjadi alat efektif untuk memopulerkan dirinya dan gagasannya. Namun, cara tersebut masih sangat bergantung pada media mainstream, baik televisi maupun cetak, karena media sosial belum secanggih sekarang. Saat itu, YouTube meskipun sudah ada sejak 2005, belum menjadi platform utama karena jumlah pengguna yang aktif mengunggah video masih minim, ditambah infrastruktur internet yang belum mendukung. Akibatnya, konten YouTube sering kali hanya berupa cuplikan dari media mainstream.
Viralitas pada masa itu juga dikendalikan oleh media. Media mainstream bertindak sebagai kurator, memilih dan mengemas cerita-cerita blusukan Jokowi sehingga ia mendapat julukan ‘media darling’. Siapa pun yang berhasil menjadi ‘media darling’, karier politiknya cenderung mulus. Namun, Dedi Mulyadi mengambil langkah berbeda dengan mengadaptasi perkembangan teknologi dan media sosial.
Dalam model ‘Blusukan Viral’-nya, KDM mengontrol seluruh proses produksi konten, mulai dari pra-produksi hingga pasca-produksi. Tim internal KDM menentukan bagian mana yang dipotong atau ditonjolkan, lalu mengunggahnya secara mandiri ke platform media sosial. Dengan cara ini, mereka dapat menyesuaikan konten sesuai preferensi audiens dan tren yang berkembang. Bahkan, media mainstream kini sering mengambil berita dari kanal YouTube KDM, sebuah fenomena yang berbanding terbalik dengan kondisi sepuluh tahun lalu.
Setiap platform media sosial memiliki karakteristik dan audiens tersendiri. YouTube menjadi kanal utama KDM karena mampu menampilkan video blusukan dalam durasi panjang, sementara TikTok digunakan untuk menjangkau audiens yang memiliki waktu terbatas. Data menunjukkan kesuksesan strategi ini. Akun YouTube Dedi Mulyadi, yang bergabung sejak 2017, telah mengumpulkan 5,71 juta followers, 4.115 video, dan total penayangan mencapai 1,8 miliar kali. Di TikTok, akunnya memiliki 3,1 juta followers dengan 58,8 juta likes, serta 1,5 juta followers di Instagram dengan 6.171 unggahan.
Sebagai perbandingan, Ridwan Kamil (RK), mantan Gubernur Jawa Barat, memiliki performa yang relatif berbeda di media sosial. Meski RK memiliki basis pengikut yang besar di Instagram (21,6 juta followers), akun YouTube-nya hanya memiliki 2.100 pengikut, 472 video, dan total penayangan sebanyak 220.000 kali. Di TikTok, RK memiliki 2,4 juta followers dengan 45,6 juta likes.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa KDM berhasil memanfaatkan media sosial secara strategis untuk membangun kedekatan dengan masyarakat. Model ‘Blusukan Viral’ tidak hanya menjadi alat kampanye, tetapi juga sarana untuk menyampaikan pesan-pesan langsung kepada pemilih tanpa bergantung pada media mainstream. Dengan pendekatan ini, Dedi Mulyadi membuktikan bahwa politik modern dapat dijalankan secara mandiri dan inovatif, sesuai dengan dinamika digital yang terus berkembang.
sumber berita: kompas.com